Jumat, 13 Juli 2018

Sebuah kata Menunggu menjadi Menemukan

from my instagram pict 2017

Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya. - Fa.


Berawal membuka tulisan di Tumblr beberapa tahun kebelakang. Sekarang Tumblr memang tidak bisa diakses di Indonesia tapi masih bisa dibuka dengan vpn luar hehehe. Karena sejak masa kuliah, sering sekali meracau di sana. Bagi saya ruang paling sunyi dari sosial media lainnya, ruang sepi diri sendiri ketika menumpahkan segala nyeri dan happy. Tak terasa sudah banyak tulisan tulisan random saya disana, banyak tokoh, nama, kisah pernah tertulis tanpa jeda. Seperti kata Menunggu, banyak juga tulisan saya dengan tema itu. Menunggu jawaban ujian, menunggu sidang skripsi tiba, menunggu seseorang yang entah kemana #eits sampai pada waktunya menunggu jawaban dari semua doa-doa yang selalu ku tanyakan pada yang Kuasa. Saya membaca tulisan Perempuansore di blog miliknya, yang isinya begini;


 Saya berpikir ulang tentang kata 'menunggu' dan mendapatkan sesuatu yang mengusik saya, bahwa kata 'menunggu' di situ kerap diidentikan sebagai subordinasi perempuan. Bahwa perempuan tidak punya hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangannya. Sementara laki-laki punya hak istimewa untuk memilih dan memutuskan pilihannya atas perempuan." 


Kata Menunggu kerap sekali menjadi suatu hal yang sering dilakukan oleh banyak perempuan. Saya pun setuju dengan tulisan kak Te dalam blognya, kalo perempuan itu emang kodratnya disuru menunggu, padahal kita pun juga punya pandangan dan pilihan sendiri. Kalau menurut saya, Menunggu disini bisa diartikan luas, mungkin setelah banyak yang dilakukan namun hasil belum juga terlihat, maka kita pun menunggu jawaban-jawaban dari usaha kita. Jika di agama saya, dianjurkan untuk berikhtiar dan selalu memperbaiki diri. Nah dalam hal menunggu pasangan misalnya, Selain itu kata 'menunggu' juga kerap menggambarkan bahwa perempuan tidak boleh agresif, dalam pengertian, agresifitas hanya boleh dimiliki oleh laki-laki sebagai sebuah tindakan untuk memburu perempuan, sebab lagi-lagi perempuan dianggap sebagai makhluk yang pasif, tidak berdaya, dan tidak berhak untuk memilih. Pada dasarnya perempuan pun juga banyak mempertimbangkan sesuatu, apalagi dalam soal jatuh cinta. Perempuan tidak sePasrah itu dalam memilih pasangan. Bagi saya, memilih pasangan itu selamanya, bukan main-main apalagi pasrah seadanya yang datang saja. NO! Kita sebagai perempuan juga punya Hak untuk memilih dan dipilih, berhak merasakan perasaan yang sama, jika ada seseorang yang datang kepada kita, lalu kita tidak ada perasaan yang sama, ya buat apa dipaksakan, karena itu sama aja menyakiti perasaan orang lain.  

Tulisan kak Te yang mengganti kata Menunggu menjadi Menemukan, saya sangat setuju sekali. Baik perempuan dan laki-laki punya peran yang sama, untuk 'menemukan' siapa dirinya, 'menemukan' seksualitasnya, 'menemukan' bagaimana sikapnya terhadap seksualitasnya, 'menemukan' ambisinya, 'menemukan' perasaan-perasaanya, 'menemukan' dan membuat pilihan secara sadar siapa yang menjadi pasangannya. Saya pernah Menunggu, bukan hitungan hari lagi, tapi tahun. dan itu menyiksa, saya seperti membuang waktu saya yang ternyata tidak berakhir bahagia. Sampai seseorang datang, disaat saya sudah berhenti berharap dan menunggu. Saya tidak lagi menunggu, tapi menemukan perasaan-perasaan yang hampir mati, menemukan sebuah pemikiran baru, menemukan seseorang yang mau bekerja sama membangun harapan baru yang sederhana. Setelah banyak tangisan, banyak ujian dan terlalu lama menunggu. Saya percaya pada segala yang akan ditemukan dalam waktu yang tepat.


Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.



pohon jodoh di desa Sade Lombok 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar