Kamis, 21 Desember 2017

Explore Sembalun di kaki gunung Rinjani Part 2

Selong Hill


Sitting in silence, watching as the fog drifts through the forest. Anonim

Pagi itu, setelah nyebrang dari Gili Trawangan menuju Teluk Nara. Ternyata selain pelabuhan Bangsal, kita bisa nyebrang dari teluk Nara, tapi hanya sewa private boat saja, untuk yang slow dan fast boat hanya dari pelabuhan Bangsal saja. Sesampainya di teluk Nara, kami dijemput mobil untuk membawa kami ke kota Mataram. Perjalanan dari teluk Nara ke kota Mataram sekitar 1 jam perjalanan, dengan view laut di sisi bagian kanan dan melewati pantai Senggigi. Tiba di kota Mataram kami melanjutkan perjalanan dengan menyewa sepeda motor. Perjalanan menuju Sembalun sangatlah panjang dan melelahkan, pantat berasa kaku dan menyatu dengan jok tempat duduk motor. Kami beristirahat sebentar di Alfamart, sambil mengisi tenaga dengan minuman dingin, dan meluruskan kaki sebentar. Ketika melihat maps, kurang 2 jam perjalanan lagi sampai nanti tiba di desa Sembalun. Sepertinya semakin gak sabar bisa segera sampai disana, siang itu Lombok sangat panas, dan semoga tetap panas sampai tiba di desa Sembalun. Sekitar 45 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi, jalanan sudah tidak datar lagi, mulai menanjak dan pemandangan kiri - kanan yang kita lewati adalah sawah, perkebunan warga, dan bukit-bukit.


pusuk Sembalun

Sampai pada jalanan mulai menyempit dan sepi, kanan kiri hutan lebat dan di sepanjang jalan kita bisa berjumpa dengan monyet-monyet yang sedang asyik nongkrong di pinggir jalan. Jika sudah masuk gerbang bertuliskan "Taman nasional Pusuk Sembalun" berarti kalian sudah setengah perjalanan, jalanan menanjak dan berkelok bertubi-tubi di depan mata. Jangan harap kalian bertemu rumah penduduk ataupun bertemu kendaraan lain yang melintas, semakin naik, mulai masuk ke dalam rindangnya pepohonan hijau dan matahari pun sulit untuk menembus lebatnya hutan di di kaki gunung Rinjani itu. Untungnya sore itu hujan sudah reda, jalanan masih basah dan sejuknya pegunungan bisa kita rasakan selama perjalanan. Tak terasa sampai pada kelokan terakhir, lalu kami berhenti sebentar di jembatan kayu di sebelah kiri jalan, dengan panorama gunung beserta kabutnya.


Pusuk Sembalun
Daerah Pusuk, adalah daerah tertinggi di kaki gunung Rinjani, setelah jembatan kayu itu, naik lagi, kalian disuguhi panorama desa Sembalun dari atas pusuk. Setelah puncak Pusuk, jalanan mulai menurun, dari atas sudah kelihatan dikejauhan desa Sembalun dengan sawah dan bukit-bukitnya yang indah.

Desa Sembalun dari atas Pusuk
Bukit Selong

Setelah tiba di desa Sembalun, kita langsung menuju bukit Selong. Sore itu disambut gerimis kecil, ketika kita berada di atas bukit. Meski gerimis kita semua takjub dan semangat sekali untuk naik ke atas, melihat pemandangan di bawah yang sungguh Subhanallah sekali. Tak sabar menunggu hujan reda, kita pun berfoto pas gerimis masih menemani kita. Dari atas bukit, kalian bisa melihat area rumah adat masyarakat Sembalun pertama kalinya. Oh iya untuk naik ke bukit Selong ini ada biaya masuk Rp 5000 per orang.

Rumah adat Sembalun dari atas bukit

Hari semakin sore, sebelum gelap kami harus mencari homestay di Sembalun. Setelah turun dari bukit Selong, di tengah jalan salah satu motor ternyata bocor ban nya. Kami pun mencari tukang tambal ban di sekitar bukit Selong. Rejeki kami, tak jauh dari lokasi bukit Selong ada tambal ban yang masih buka, sambil menunggu selesai, kami beristirahat sebentar dan mencari info homestay murah di Sembalun dari mas-mas tambal ban.

ini pemandangan dari depan kamar homestay kita

Rinjani di pagi hari
Setelah drama ban bocor selesai, kita kembali mencari homestay, dan ketemu homestay (duh maafkan saya lupa nama homestaynya) pokoknya sebelah kiri jalan rumah pagar hijau dengan halaman yang luas di belakang. Waktu itu kami tawar harganya menjadi Rp 300.000 2 kamar, dengan nego tanpa air hangat. Dan Ibu yang punya homestay nya mungkin kasihan melihat kami, akhirnya boleh juga dengan harga Rp 150.000 per malem 1 kamar. Dengan view depan kamar seperti itu, bener-bener rejeki nomplok buat kami. Malam harinya, niat hati kita mau beli gorengan di pinggir jalan sebelum ke homestay, dan ternyata jam stengah 6 sore, gorengannya udah abis semua. Untungnya masih ada warung bakso yang buka, lumayan buat ganjel perut di sore hari. Karena di Sembalun jam 7 malem toko pada tutup semua, jadi sebelum jam 7, usahakan untuk membeli minuman atau cemilan untuk malem harinya hehhe.

jalanan di desa Sembalun, selalu menyenangkan liatnya begituan

ini masih di homestay kita, pemiliknya suka berkebun

Pagi hari di Sembalun, rasanya tak ingin pulang. Rasanya pengen tinggal lama disana, suasana desa yang ayem, nyaman dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Sejenak lupa dengan rutinitas kerjaan yang membuat sumpek pikiran. Kata ibu yang punya homestay, bulan-bulan ramai wisatawan ke Sembalun pas bulan April sampe Agustus. Pendaki Rinjani dari luar dan dalam negeri berdatangan ke desa Sembalun ini. Setelah sarapan pagi, kita mulai berkemas untuk kembali melewati gunung, dan masuk lagi ke hutan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah pantai di Lombok Barat. Karena jalan satu-satunya hanya lewat Pusuk, jadi kita melewati jalanan sore kemaren, cuma bedanya kemaren nanjak terus dan pulangnya turunan.

Oke gaes, dilanjut ke part 3 cerita saya menuju daerah pantai di Lombok.


Terima kasih sudah membaca
Salam Ransel


1 komentar: