Sabtu, 02 Desember 2017

Explore Gili Trawangan ala Ransel part 1

Sembalun Village

Menjadi hilang di Negeri sendiri dengan keindahan yang menyejukkan hati adalah hal yang diinginkan semua jiwa. -Anonim

Lombok adalah salah satu destinasi impian saya sejak kuliah. Dulu punya mimpi bisa ngetrip ke Lombok bareng temen-temen kuliah, dan ternyata dikarenakan waktu masing-masing yang tidak pernah kejadian sampai detik ini. Mungkin takdir sedikit kasihan denganku, dan tawaran ke pulau seribu masjid ini datang dari orang-orang yang tak terduga. Tak mungkin kulewatkan takdir yang udah diberikan semesta padaku (hahaha lebay dikit). Tanggal 9-12 November kemaren berhasil meng-explore pulau Lombok dari ujung utara, tengah, dan timur. Dari nyebrang pulau, naik ke kaki gunung Rinjani dengan suasana desa Sembalun, lalu lanjut ke ujung timur Lombok dengan deretan bukit dan pantainya yang aduhai. Empat hari begitu terasa cepat untuk satu pulau yang sungguh luar biasa bagusnya ini. Seperti belum puas untuk menjelajahi setiap jengkal daratan dan pantainya. Bisa jadi saya tulis menjadi 4 bagian, agar kalian semua bisa baca setiap keindahan pulau ini dalam tulisan saya, semoga bisa merasakannya ya gaes :)


Gili Trawangan 

Pagi itu, dengan setengah berlarian menuju gate 2 Bandara Juanda Surabaya, karena pesawat tujuan Lombok Praya sudah Final call. Kurang dari 10 menit aja,mungkin saya sudah ditinggal burung besi merah yang kebanyakan delay daripada on time. Tapi waktu itu jadwalnya sangat tepat waktu, membuat ku sedikit ber-olah raga pagi. Perjalanan Surabaya-Lombok sangatlah cepat, tapi lumayan bisa membuat saya tertidur setengah jam, dan ketika membuka mata, view laut biru dengan 3 pulau berjajar ditengah-tengahnya, sudah berada di kejauhan. Karena ini lah saya lebih suka memilih window seat ketika naik pesawat. Beberapa menit kemudian, suara pramugari terdengar mengumumkan bahwa beberapa saat lagi kami akan landing. Pukul 12.00 siang WITA, sampai di bandara kami menumpang Bus menuju pantai Senggigi. FYI, buat kalian backpacker yang mau menuju Gili Trawangan, bisa naik bis damri jurusan pantai Senggigi tiketnya Rp 35.000, nah dari pantai senggigi kalian bisa naik taksi menuju pelabuhan Bangsal untuk menyebrang ke beberapa Gili. Perjalanan Bandara - pantai Senggigi cukup terasa lama, membuat saya tertidur puas siang itu. Sesampainya di pelabuhan Bangsal, kami membeli tiket untuk sewa kapal. Nah, Fyi lagi di sini ada 2 pilihan kapal untuk menyebrang ke Gili. Jika kalian ingin menikmati perjalanan dan hemat uang, bisa beli tiket slow boat yang harganya Rp.35.000/ orang, untuk kalian yang pengen cepet dan gak sabar buat explore Gili, bisa beli tiket fast boat dengan harga Rp.85.000/ orang. Untuk membandingkan sih, kalau slow boat kalian harus nunggu sampai penumpang kapal penuh dulu baru mau berangkat, tapi kalo fast boat nunggunya gak pake lama, ada 5 orang langsung cus deh. Sore itu sedikit mendung tapi gak hujan, selama dalam kapal, mata saya disuguhi pemandangan warna biru dan hijau tosca, bener-bener vitamin sea banget.


dermaga Gili Trawangan
Perjalanan dari pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan memakan waktu sekitar 35 - 45 menit, agak lama karena beberapa penumpang ada yang turun di Gili Air, dan Gili Meno dan rata-rata semuanya orang asing. Sampai di Gili Trawangan, kalian bisa naik cidomo untuk menuju penginapan, atau jalan kaki lebih asyik sih, karena sore itu kami pun jalan kaki menuju penginapan kami. Tak jauh dari dermaga, banyak sekali cafe-cafe di pinggir pantai, setiap mata memandang yang terlihat hanyalah wisatawan asing. Memang Gili Trawangan menjadi salah satu destinasi wisatawan asing yang populer selain pulau Bali. Karena pulau Gili Trawangan ini tak cukup luas, warga lokal pun menjadikan sepeda dan cidomo sebagai alat transportasi mereka sehari-hari. Cidomo adalah kereta yang ditarik oleh kuda, namun ukurannya sedikit lebih kecil daripada delman atau kereta kuda. Wisatawan asing maupun lokal pun kalau mau explore pulau Gili Trawangan juga memakai sepeda, karena disini tidak ada pom bensin makanya pake sepeda, atau sepeda listrik.



bersepeda sore keliling Gili Trawangan

Kalian bisa explore dengan mengelilingi pulau Gili Trawangan, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk berkeliling memutari pulau ini. Sambil bersepeda, kita bisa melihat deretan cafe, resort, hotel dan pantai yang indah. Tujuan saya waktu itu, mencari ayunan yang lagi hits di instagram, namun sayang setengah putaran pulau tidak menemukannya, tapi saya tertuju dengan pantai yang lumayan bagus untuk menikmati sunset sore itu. Pinggiran pantainya cukup luas, dan terdapat beberapa cafe di sebrangnya, namun ini bisa dinikmati bebas untuk wisatawan tanpa harus order ke cafe nya. Karena di sepanjang pinggir pantai ada yang tertata khusus untuk pengunjung cafe saja, dan itu semua cukup mahal buat kami yang sekedar menikmati pantai dengan gratisan hehehe..

Sunset view sedikit mendung
Pantai ini cukup sepi karena letaknya di sebelah barat pulau, dan di kejauhan kita bisa lihat bayangan beberapa gunung di pulau Bali, salah satunya gunung Agung. Sebelah pantai gratisan ini, ada cafe dengan bantal-bantal warna warni dan isinya full orang Bule semuanya. Di pantainya mereka menempatka ayunan besar yang lagi kekinian banget, bertuliskan Malibu beach, dalam hati pengen foto disana tapi agak malu karena bule semuanya, akirnya cuma bisa foto ayunannya aja hehe.

can see the mountain shadow?

ayunan yang kosong, seolah memanggilku buat foto :(

nah ini cafe yang isinya bule semua

Hari semakin sore, dan langit semakin mendung dan gelap pertanda hujan akan turun segera. Ketika kita mau kembali ke penginapan, ternyata sepeda saya tidak bisa dibuka rantainya, kerana kuncinya salah. Beberapa orang teman kembali ke penginapan untuk mengambil kunci, dan saya kembali menikmati langit gelap yang sedikit gerimis sore itu. Agak takut juga sih, karena tidak ada tempat untuk berteduh, namun lagi-lagi semesta berpihak padaku, langit yang tadinya gelap mau turun hujan, seolah disihir dan berubah warna menjadi pink ke merah-merahan seperti anak gadis sedang jatuh cinta (aiiii syedappp). Gak pake lama, langsung capture langit merah jambu itu.



pose dulu lah sembari menunggu sepeda

buat ngelamun juga oke :)

warna langitnya kayak sedang jatuh cinta ya 

Setelah drama kunci rantai sepeda gak bisa dibuka, kita menunggu di pinggir pantai hingga gelap. setelah bisa terbuka, kita lanjutkan mengayuh sepeda pulang ke penginapan. Dan jalanan menjadi sangat gelap banget, karena tidak ada lampu jalan sama sekali, akhirnya kita nyalakan senter di hp untuk menerangi jalanan, agak susah karena harus extra fokus liat jalanan, dan mata saya kalo udah malem udah gak bisa lihat jelas, kacamata pun tertinggal di penginapan. Alhasil kita bersepeda dengan pelan, untuk memilih jalan yang bisa dilewati. Sedikit lega ketika sudah memasuki area cafe-cafe jalanan sudah menjadi terang dan sudah ramai orang lalu lalang untuk mencari makan malam. Sebelum pulang ke penginapan, kita mampir untuk cari makan malem sekalian. Dan terlihatlah area pasar makanan, segala jenis ikan dan makanan laut lainnya ada disana, pengunjungnya pun semuanya orang asing, tapi jangan khawatir ada makanan indonesia juga kok yang cocok untuk lidah kita. 


wuih, seger-seger ya hasil lautnya

ini penjualnya semangat banget kalo ada bule yg tanya

Nah ini suasana foodcourt sederhana tapi banyakan orang asing

Sebenernya ada temen yang bilang kalau nyari makan jangan yang di pasar makanan, rata-rata mahal harganya, tapi menurutku sih, standart kok harganya. Kalau kalian mau makan seafood tanya aja dulu harganya, karena sedikit mahal sepertinya. Tapi kalau makanan seperti nasi campur. sayur, lauk ayam, udang, daging sekitar Rp 25.000 - Rp. 40.000 an lah harganya. Waktu itu saya gak makan sih, jadi saya tanya temen saya yang memilih menu nasi campur. Setelah kenyang, kita kembali ke penginapan untuk membersihkan badan setelah seharian perjalanan. Malem hari di Gili Trawangan, kami menyempatkan berjalan kaki untuk melihat suasana pulau pada malam hari. Jalanan di sekitar penginapan tampak sepi, namun ketika keluar di pinggir pantai sepanjang jalan masih terdengar suara musik dari deretan cafe yang masih buka hingga tengah malam nanti. Waktu itu jam 11.00 WITA, masih banyak lalu lalang bule - bule yang sekedar nongkrong di cafe - cafe. Saya seperti wisatawan asing di negeri sendiri, gimana tidak satu pulau ini seperti timpat tinggal mereka, kami yang wisatawan lokal seperti menyesuaikan diri dengan kehidupan para wisatawan asing di sana. Cafe-cafe standarnya wisatawan asing, mau beli apa-apa takut ada pork nya, kalo gak ya harganya mahal banget, alhasil kita nyari jajanan yang murah, waktu itu beli crepes pisang, dan harganya pun Rp. 45.000 gaes, kalo di Surabaya Rp. 10.000 udah dapet se plastik. Menikmati crepe pisang dengan 1,5 liter air mineral dan duduk si pinggir pantai yang gelap, sungguh sederhana sekali kan? alias gak ada duit buat beli di cafe nya, hahahha. 


perjalanan pulang ke penginapan, menemukan papan kosa kata ini 

Good Bye Gili Trawangan see you soon

Tiba di dermaga Teluk Nara



Semalam di Gili Trawangan tidak cukup untuk menikmati pulau ini dengan waktu yang singkat, tapi apalah daya, saya harus explore tempat lainnya di pulau Lombok ini. Semoga bisa kembali lagi ke Gili Trawangan untuk menikmati alam bawah lautnya, karena kemaren belum sempat, dan kaki ini sudah pengen nyemplung lagi ke air, oke tunggu ya, saya pasti kembali lagi.

Berlanjut ke Part berikutnya, saya akan explore sebuah desa di kaki gunung Rinjani....



Terima kasih yang sudah baca, semoga bermanfaat infonya :)
Salam Ransel,



Nenny Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar