Rabu, 18 Oktober 2017

Berburu cantiknya "Blue Fire" di kawah Ijen bersama @Jelajahsenja

Kawah Ijen


Di pukul tiga dini hari, ketika semua orang sedang asyik menemui mimpinya. Saya dan beberapa kawan baru tiba di parkiran pos Paltuding, basecamp pendakian gunung Ijen. Tak seperti yang kubayangkan, dengan memakai jaket dua lapis dengan syal kulilitkan di leher, pelan-pelan membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Keadaan masih gelap dengan suhu udara hampir 19 derajat kala itu. Parkiran tampak penuh dengan barisan mobil dan mini bus berjajar, hampir tak menyisakan tempat kosong. "kalo hari libur biasanya memang rame mbak, semua orang udah banyak yang naik" sahut petugas yang jaga di sekitar pintu masuk pendakian. Memang kalo kawasan wisata manapun selalu ramai jika weekend atau hari libur. Pagi itu sepertinya kami kesiangan, seharusnya mulai mendaki pukul 12.00 - 01.00 dini hari, jika kalian ingin berburu 'blue fire'. Pagi itu, kami baru tiba di pos Paltuding sekitar pukul 02.30, dengan senter di tangan, kami siap melawan dinginnya udara pagi itu. Ketika mulai naik, jalanan berbatu dan gelap, membuat saya dan beberapa orang teman tertinggal dengan rombongan yang sudah terlebih dulu naik ke atas. Ritme saya ketika naik ke Ijen, tiap 5 menit berhenti, mengatur nafas, minum air, lalu jalan naik lagi, begitu seterusnya hingga sampai puncak.

 Fenomena Api biru yang sering disebut "Blue Fire" ini masih menjadi primadona wisata gunung Ijen. Keindahan Blue Fire mampu memikat wisatawan asing untuk melihat langsung fenomena  yang hanya terdapat di 2 negara di dunia, salah satunya di gunung ijen ini. Jadi kalian tak usah heran, sering sekali berpapasan dengan wisatawan asing di jalur pendakian Ijen. Saya dan teman-teman dengan jakit 2 lapis dan syal, sedangkan mereka hanya memakai kaos lengan pendek tanpa jaket dan celana pendek saja, "gila tuh bule, gak dingin apa, cuma pake singlet aja" sahut teman saya ketika kami berpapasan dengan wisatawan asing.


Fenomena Blue Fire

Blue Fire itu seperti Jodoh, jika beruntung dan takdir kita bisa melihatnya, jika belum takdir sesering apapun ke gunung ijen jika belum jodoh ya belum bisa melihatnya. Karena alam tidak bisa di prediksi, celetuk salah satu pekerja tambang belerang di sekitar blue fire.
 Trekking menuju gunung ijen membutuhkan waktu sekitar 1 jam jika berjalan normal dan tidak berhenti-berhenti. Jika berjalan santai dan sering berhenti bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan kondisi jalan pasir dan berbatu, belum lagi trek dari pintu masuk hingga puncak sedikit terjal dan menanjak. Baru 10 menit berjalan saja, saya udah ngap-ngapan, meski udara dingin menyengat ke kulit, saya masih merasakan gerah dan keringat mengucur perlahan di dahi dan punggung saya.
Tak perlu khawatir, jika kalian tak kuat nanjak, sekarang sudah ada angkutan dengan tenaga manusia yang menawarkan jasa menuju ke puncak kawah. Tarifnya jika mulai dari bawah sekitar Rp 700.000 - Rp. 800.000 karena memang tenaga manusia yang menariknya. Kalau kalian punya duit dan malas naik dengan jalan kaki, bisa banget tuh pakai kereta tenaga manusia.



setengah 5 pagi sampe di kawah ijen

Hampir 1 jam lebih perjalanan saya sampe ke bibir kawah, langit sedikit lagi akan cerah, bintang-bintang bertaburan di langit malam itu pun akan tergantikan sinar mentari yang mulai menyembul di antara gunung dan awan. Tepat pukul 04.30 pagi, saya dan beberapa teman tiba di puncak kawah, jika kalian ingin berburu blue fire, harus mendaki jam 12.00 malam, agar sampe ke bibir kawah dan 'blue fire' masih tampak jelas jika langit masih gelap.

yang terlihat ada asap belerang itulah, lokasi blue fire

Sambil masih ngos-ngosan, dan berhenti sejenak, saya melihat sekeliling yang tampak sudah cerah, kawah berwarna ijo tosca itu pun sudah terlihat jelas dari tempat saya beristirahat. Teman-teman yang lain ada yang sudah turun ke bawah kawah untuk ngejar 'blue fire', sedangkan saya dan beberapa teman memutuskan untuk berhenti di atas saja. Sampai ke puncak aja udah ngos-ngosan, apalagi mau turun ke bawah lalu naik lagi ke atas, aduh ampun deh, saya nyerah! (jangan ditiru ya, kalo kamu pengen bener-bener kejar blue fire harus turun ke bawah supaya bisa tampak jelas).

Setelah capeknya ilang, kami segera mengabadikan momen pergantian pagi dengan sedikit sinar mentari menyembul di sela-sela gunung. Oh iya, kalo pengen capture sunrise kalian harus naik lagi hingga ke puncak gunung ya, itu masih perlu stengah jam mendaki lagi. Kalo saya mah, udah cukup sampe bibir kawah aja, udah bahagia banget.

making time lapse ( dengan angin kenceng, dan sering oleng )

berasa di puncak yekan? awan nya ketjeh

Penambang Belerang di jalur turun ke kawah

lokasi blue fire, siapkan masker jika mau turun kesini ya


bersama kawan sependakian

waktu itu cuaca tampak cerah merona

kawan sependakian bersama @jelajahsenja bisa cek ig nya ya


Puas banget bisa foto-foto bareng teman-teman baru, jika kalian berencana ngetrip ke Jawa Timur bisa liat trip plan nya @jelajahsenja di instagram ya, mereka punya jadwal trip pas weekend jadi gak pake cuti dari kantor. Setelah itu kami langsung turun ke bawah, jalanan pulangnya lebih mudah daripadi naiknya, tapi tetep hati-hati ya, karena trek pasir dan berbatu. Selamat bertraveling, dan jaga kebersihan waktu di alam ya kawan.




cheers,


Nenny :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar