Selasa, 13 Juni 2017

What if someone you love is happier without you? Will you Leave?

source pinterest
"We meet at wrong time. That's what I kept telling myself anyway. Maybe one day, years from now, we'll meet in a coffee shop in a far away city somewhere and we could give it another shot." -Eternal Sunshine of the spotless mind

Mengutip quote dari film favorit saya, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, apakah ada yang pernah nonton? film yang dibintangi oleh Jim Carrey dan Kate Winslet ini udah saya puter berulang kali untuk ditonton. Entah kenapa suka banget sama film ini, seperti film 500 days of summer, dua film ini sukses membuat saya berulang-ulang menontonnya dan udah diluar kepala banget isi ceritanya, hehehe. Bagi kalian yang belum nonton, saya rekomenin dua film ini buat ditonton dan awas jangan baper ya :)

Eh kembali ke judul diatas, " What if someone you love is happier without you? Will you leave?" 

Mau cerita dikit tentang pertanyaan diatas, mungkin kalian pernah ditanya seperti itu atau kalian sendiri yang bertanya-tanya ke diri kalian, pasti pernah kan?
sebenernya judul pertanyaan itu pernah ditulis seseorang di akun tumblr nya, dan kemudian saya pun ikut merenungkan kata-kata nya. Pada waktu itu saya masih belum bisa menjawabnya, karena memang belum ngalamin. Dan beberapa waktu dekat ini, saya banyak dicurhati beberapa teman. Ada cerita sedih, bahagia, baper sampai galau, dan sebagian besar tentang Apakah kamu siap melepaskan dan meninggalkan orang yang kamu sayang untuk bahagia? 

Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, Akankah saya benar-benar bisa meninggalkan seseorang yang saya cinta, jika nyatanya ia lebih berbahagia tanpa saya? dan saya lagi-lagi belum menemukan jawabannya. Mungkin kita terlalu sering diajari mencinta, hingga lupa bahwa ada juga yang namanya mengikhlaskan dan merelakan. Salah satu cerita teman saya begini, dia hampir saja menikah dengan seorang laki-laki yang baru beberapa bulan dikenalnya, enam bulan kemudian mereka memutuskan untuk serius dan menikah. lalu si lelaki ini datang ke rumah teman saya dan melamarnya, dan waktu itu saya datang ke lamarannya. Saya tak melihat sesuatu yang janggal disana, semua berjalan lancar dan semuanya menunjukkan kebahagiaan. Namun siapa sangka dua bulan berikutnya, mereka memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan yang kurang dari 4 bulan berlangsung, hanya karena masalah sepele yang mungkin bisa diperbaiki. Tapi dari pihak keluarga lelaki tak mau mengusahakan untuk diperbaiki, dan akhirnya benar-benar batal. Jangan ditanya bagaimana perasaan teman saya waktu itu. Namun disini saya mengulang lagi pertanyaan diatas, apakah kita siap merelakan dan mengikhlaskan semuanya? memang sulit, kita manusia biasa, dan pada bagian ini saya pun bukan orang yang lihai melakukannya. Tapi kita tak mungkin juga menjadi orang yang egois, yang tetap memaksakan untuk bersama tanpa memikirkan apakah ia yang kita cinta juga merasakan bahagia yang sama. Memang semua sudah pada rencana Tuhan, belum jodohnya, jadi segimanapun kita ingin kalau belum jodoh mau apa?




Pada dasarnya kita semua butuh merasa dibutuhkan, kita ingin merasa diingini, kita rindu merasa dirindui. Namun apalah artinya jika tanpa kata "saling"? Bukan berarti menuntut timbal balas, "saling" lebih kepada tanpa paksaan, rela hati, bahkan merasa suka melakukannya.
Kembali lagi di pertanyaan awal, Jika ia yang kita cinta lebih bahagia tanpa adanya dirimu, apakah kamu mau meninggalkannya? Susah, emang iya. Namun bukan berarti tidak bisa. karena esensi meninggalkan dan ditinggalkan adalah "berbahagia tanpa", bukan "bersedih dengan".

Dan saya mendapat pelajaran baru tentang kisah teman saya ini. Sampai detik ini saya banyak belajar, banyak sekali. berpikir tentang segala yang akan terjadi ketika tidak sesuai dengan harapan saya. Menerima walau tak diterima, merelakan pergi ia yang menginginkan saya pergi, ikut berbahagia saat yang saya cinta berbahagia tanpa saya.

kembali teringat ketika menonton film "Eternal sunshine of the spotless mind" yang saya tangkap disana bahwa cinta adalah semua tentang melepaskan, melepaskan ego kita sendiri sehingga kita bersedia melakukan sejumlah upaya dan energo untuk mengambil resiko dan menerima keadaan baik atau buruk sekalipun untuk seseorang yang kita cintai. Dan diakhir tulisan ini, saya menjawab pertanyaan tersebut, dengan "iya saya akan pergi, berbahagialah kamu tanpa saya"

"You can erase someone from your mind. Getting them out of your heart is another story" - Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Attention Dilarang Baper kemudian!

ps: untuk teman yang saya ambil ceritanya, tetaplah berjuang mengikhlaskan sist, akan datang gantinya yang jauh lebih baik lagi :)


beberapa sumber dari sebuah tulisan dewidraupadi
cerita minggu ke 24 untuk #1minggu1cerita




6 komentar:

  1. Esensi meninggalkan dan ditinggalkan adalah "berbahagia tanpa", bukan "bersedih dengan". Ini baru kepikiran sama saya.. Mungkin dengan memahami esensi ini, kita bisa lebih tenang dalam menghadapi perpisahan. Nice post! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih udah mampir... Smoga bs bermanfaat

      Hapus
  2. Kejadian pada sepupu saya mbak.Pacaran 2 tahun, lamaran,book gedung. Sebulan sebelum hari H,batal. Untuk hal yg kata ortu prinsip.Setahun kmd menikah dg seseorang 'yang tepat' tanpa pacaran :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbk, smoga teman saya pun sgera ditemukan yg lebih baik. Makasi ud mampir baca mbk

      Hapus
  3. Kejadian pada sepupu saya mbak.Pacaran 2 tahun, lamaran,book gedung. Sebulan sebelum hari H,batal. Untuk hal yg kata ortu prinsip.Setahun kmd menikah dg seseorang 'yang tepat' tanpa pacaran :-)

    BalasHapus
  4. Pabila emang belum jodoh, ini bakal perlu dilakukan baik secara secara iklas ataupun terpaksa~

    BalasHapus