Selasa, 25 April 2017

Apa kamu termasuk seorang Eccedentesiast?

source google



Eccedentesiast ; (n) A person who fakes a smile

Dibalik senyuman itu, ada teriakan paling memilukan yang selalu ditutupinya.


Tidak selalu senyuman itu menggambarkan seseorang sedang bahagia, bisa jadi senyumannya adalah topeng untuk ia bersembunyi dari tiap masalah yang ia hadapi. Pernah denger istilah, senyummu itu Palsu, atau seseorang yang bersembunyi di balik senyumannya. Nah kali ini saya ingin menulis atau berbagi cerita tentang orang Eccedentesiast ini.

Apa itu Eccedentesiast?
Bagi sebagian orang awam, masih samar dengan istilah psikologi itu. Dulu waktu saya sedang mengerjakan skripsi, saya pernah membaca buku teori tentang sifat-sifat atau karakter manusia berdasarkan karakter dan perilakunya. Waktu itu saya kebetulan saja membahas psikologi child abuse, meski bukan anak psikologi, sebagian besar bahan teori skripsi saya tentang psikologi, karena dulu saya bedah novel english tentang kekerasan seksual yang dialami tokoh utama dalam novel itu seorang anak berusia 6 tahun. Dan baru sekarang kepikiran buat bikin tulisan tentang si Eccedentesiast ini. 
Eccedentesiast adalah suatu istilah dalam psikologi dimana seseorang menyembunyikan rasa sakit(dalam konteks luas) mereka dibalik senyumnya. Ada yang mengatakan Eccedentesiast adalah munafik, sebenarnya tidak tepat mengatakan hal tersebut demikian. Para eccedentesiast dan sebagian besar orang seringkali mengatakan mereka adalah orang yang kuat, dapat tersenyum dalam kesedihan atau masalah mereka.

SOMETIMES WE SMILE TO HIDE THE SADNES"

Penyebab menjadi si Eccedentesiast 
 Sebenarnya banyak alasan orang menjadi si Eccedentesiast ini, yang utama adalah mereka tidak mau terlihat sedih di depan banyak orang, lalu bisa jadi mereka paling malas ditanya, kenapa dia terlihat sedih dan murung, dan masih banyak penyebab lainnya, dan mereka lebih memilih untuk menyembunyikan kesedihan dengan tersenyum. Kalau menurut saya, mungkin saya akan memilih menjadi seorang Eccedentesiast di waktu-waktu tertentu. Ketika saya menganggap bahwa tidak semua orang mau mendengar atau menghiburku dengan masalah yang saya alami, atau mungkin saya lebih merasa tenang jika tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang memberondong saya ketika saya sedang ada masalah. Justru saya lebih baik terlihat bahagia, tersenyum dan bercanda kepada orang lain, daripada saya harus mengumbar kesedihan di depan orang banyak. Setiap orang pasti punya masalah, setiap orang pasti pernah bersedih, saya bukan orang yang munafik untuk menutupi semua kesedihan saya. Tapi saya lebih memilih membagi kebahagiaan saya kepada semua orang, karena senyuman bisa membuat orang-orang disekitarmu ikut senang juga. Ada saatnya ketika saya tak mampu menelan kesedihan sendiri, saya hanya bisa membaginya dengan orang yang benar-benar saya percayai dan yang pastinya saya lebih banyak curhat kepada yang punya hidup yaitu Allah SWT. 

Orang yang tabah dan kuat dalam menghadapi masalah atau kehilangan dibagi menjadi dua tipe, mereka yang bisa melepaskan semua kesedihan mereka dan memutuskan untuk bahagia, sementara yang lainnya adalah berpura-pura untuk bahagia.  
Mengapa banyak orang yang lebih memilih tersenyum walaupun sebenarnya dia tidak ingin tersenyum? Itu akibat dari lingkungan sosial kita yang melihat bahwa kesedihan adalah hal yang tabu. Ketika masyarakat melihat orang yang sedih, mereka akan menuntut orang itu untuk terlihat bahagia. Bukan karena mereka peduli terhadap orang itu, tapi demi kepuasan hati sendiri karena melihat orang sedih itu tidak menyenangkan. Yang perlu di garis bawahi ketika seseorang terlihat murung dan sedih yang terlalu sering. Itu sungguh tidak menyenangkan bagi orang lain. Maka dari itu saya lebih memilih untuk menyimpan sedih dan murung saya, lewat senyuman dan guyonan.

Hebatnya, seorang eccedentesiast adalah penghibur yang sangat baik. Semakin orang terluka, semakin pandai dia menyenangkan orang lain. Walau dia tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang besar miliknya, dia dapat dengan mudah menyelesaikan masalah kecil orang lain. 

FAKING SMILE IS EASIER THAN EXPLAINING WHY YOU ARE SAD"

Kadang kamu memilih tuk terlihat bahagia, karena tak ingin menjelaskan mengapa kamu bersedih pada mereka yang bahkan tak berusaha tuk mengerti. Tak seorangpun dalam hidup ini sangat kuat. Semua orang merasa kesedihan, tapi terkadang seseorang mampu pura-pura tersenyum. Nah sekarang kamu termasuk si Eccedentesiast bukan ?




setelah 3minggu absen karena sibuk jadi minggu ini setor lebih awal biar gak kenak kick dari  #1minggu1cerita









 

10 komentar:

  1. Menarik ...tali bahasannya kurang panjang. Trus secara psiko, orang tsb efeknya apa? Positif atau negatif nya
    Thanks mbak Neyniw
    Mampir kesini juga yaaa
    imangsimple.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi mbk sudha mampir utk baca, sebenarnya banyak pembahasan tentang ini, cuma saya singkat aja. kalo untuk sisi positifnya mereka tidak terlalu lebay utk berdrama, tapi dari sisi negatifnya, jika terlalu memaksakan utk menahan semua masalah tnpa sharing ke orang lain bisa jadi depresi sendiri hehehe...

      Hapus
  2. Wah, sepertinya ini saya banget. Tapi sebenarnya gara-gara sifat ini saya (Sempat) mengalami depresi sampai harus berobat ke psikiatri, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, gawat juga ya mas, sampe depresi. tapi sekarang gak kan? hehehhee
      btw makasi sudah mampir

      Hapus
  3. Mbaa izin ngutip yaaa, dicantumkan sumbernya kok hehe

    BalasHapus
  4. wah ini bacaan bs jd pengetahuan saya mbak.
    banyak temen2 saya menganggap saya seperti diartikel ini. aku kadang heran jg, kok bs mereka bs menyimpulkan seperti itu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya silahkan, bisa di guggling juga. makasi sudah mampir dan baca :)

      Hapus
  5. Assalamualaikum
    Blog nya bagus dan sangat membantu :)
    Maaf kalau boleh tau, boleh berbagi referensi terkait gangguan tersebut?

    BalasHapus
  6. Saya bgt mbk bhkan pernah sampai halu sangking dpresinya hehe

    BalasHapus