Rabu, 22 Maret 2017

Ulasan Film: Membangunkan Para Pemimpi lewat La La Land

source google


“A bit of madness is key to give us new colors to see. Who knows where it will lead us? And that’s why they need us.”


Satu lagi film musical yang bisa menghipnotis seluruh mata di dunia. Film yang baru saja tayang di bioskop Indonesia ini, langsung happening sekali di sosial media hingga perbincangan anak-anak Sd yang saya temui, semua menari sambil nyanyi ala di La la land. Mungkin cuma saya aja yang ketinggalan beritanya, saya kira La la land ini adalah film musical anak-anak seperti film musical lainnya. Dan emang saya telat banget nyadarnya, jadi saya minta file film La la land ini ke teman saya, gara-gara penasaran sama isi filmnya.

Don't judge movie by its cover
Emang bener sih, jangan lihat film dari posternya saja, harus ditonton dulu baru bisa berkomentar. Sebenernya saya tidak terlalu suka dengan drama atau film musical yang dikit-dikit nyanyi, nari atau apalah, udah kayak film India aja, dikit-dikit nari kejar-kejaran di pohon gitu. Eh tapi film ini, gak ada kejar-kejaran di pohon kayak film India ya. Pertama kali liat poster film ini di salah satu media, saya cuma tanya ke temen, ini film apa sih? kok heboh banget, secara saya gak terlalu suka dengan Ryan Gosling jadi ya standart aja gitu waktu pertama kali liat di poster film deretan nama aktor dan aktrisnya. Setelah beberapa bulan tayang di bioskop pun, saya masih belum berniat untuk menonton film ini, sampai pada akhirnya banyak sekali quote-quote muncul di sosial media saya tentang film ini. Dan baru-baru kemaren saya menonton film ini di laptop saya, hasil minta file dari teman yang ternyata gak ada subtitle nya. Oke fix, selama nonton filmnya saya sedikit meraba-raba jalan cerita film ini. Kesan pertama pas awal film ini diputar pun, masih belum ngerasa suka, karena banyak nyanyian dan tarian pada saat jalanan macet di jembatan layang. Tapi keren sih kalau dilihat dari sisi fotografi, deretan mobil-mobil berhenti di sebuah jembatan layang, lalu semua orang menari-nari dengan gerakan yang keren lah, menurut saya.


Ceritanya sih Klasik tapi bikin Jatuh Hati di Endingnya

Meskipun tidak ada subtitle, saya mencoba pahami sedikit-sedkit alur ceritanya. Kalau menurut saya sih, ceritanya klasik banget, orang yang berusaha melakukan apapun untuk mengejar mimpinya. Meski dari segi cerita yang klasik,namun di film ini cukup berhasil mengemas visual yang keren banget. Dari segi setting tempat, tarian, nyanyiannya dan yang pasti akting Ryan Gosling dan Emma Stone bener-bener keren. Mereka berhasil membangun chemistry satu dengan lainnya, menjadikan cerita di film ini benar-benar seperti yang sering kita rasakan di kehidupan nyata. Dengan impian masing-masing, mereka sama-sama saling menyemangati untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Ryan Gosling ( Sebastian ) seorang pianis jazz di restoran., sedangkan Emma Stone ( Mia ) seorang barista yang ingin menjadi aktris terkenal, sehingga ia mengikuti setiap audisi yang ada demi bisa menjadi seorang artis. Awal pertemuan mereka terjadi tidak sengaja, ketika Mia melewati sebuah restoran dan mendengar dentingan piano yang dimainkan oleh Sebastian. Ketika masuk ke sebuah restoran, Mia melihat seorang pianis jazz sedang memainkan lagunya, namun tiba-tiba berhenti karena ia tidak mengikuti aturan bos restaurant tersebut, yang kemudian ia dipecat dari pekerjaannya bermain piano.



Impian mereka yang membawa jalan mereka masing-masing

Mungkin saya salah menjudge film ini terlalu dini, karena semakin ke tengah, konflik yang timbul diantara mereka semakin terlihat. Ternyata impian mereka masing-masing yang membawa mereka ke jalan berbeda. Yang awalnya mereka saling mendukung dan menyemangati untuk bisa menggapai impiannya, karena impian juga yang mendekatkan mereka satu sama lain. Dan yang membuat saya baper maksimal, ketika tahu endingnya diluar ekspektasi saya sebelumya. Di pikiran saya, ketikamelihat drama musical atau drama-drama lainnya, pasti bisa ketebak endingnya seperti apa, kalau gak happy ya sad ending. Namun di film ini, benar-benar bisa membawa emosi penonton naik turun kayak roller coaster (sedikit lebay, hehhe). Tidak diceritakan bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah Mia berhasil lolos audisi, dan Sebastian muai konser keliling dengan band nya bersama John Legend. Tiba-tiba Mia sudah menjadi seorang yang kaya raya, dan memiliki anak dengan seorang pria yang bukan Sebastian. Ketika pergi bersama suaminya, tak sengaja suami Mia mengajak masuk ke sebuah restoran dengan nama SEB'S, yang mana nama itu sebuah nama dari Mia untuk cafe yang akan dibuka oleh Sebastian.



Nah pada scene ketika Mia bertemu kembali dengan Sebastian di cafe, itulah momen klimaks dari film ini. Menurut saya, ending yang bagus dan diluar ekspektasi semua orang ini yang membuat film ini mendapatkan banyak penghargaan. Sang sutradara, meramu ending yang sangat keren untuk sebuah flasback perjalanan mereka bertemu, lalu menjalin kisah, hingga mereka memilih jalan masing-masing dengan impian mereka. Penggambaran yang sangat keren, dan baju-baju yang dipakai oleh Mia sungguh mempesona. Dan sampai di akhir cerita, dengan tatapan terakhir mereka, jelas menggambarkan kebersamaan mereka masih hidup dalam impian mereka masing-masing. Sebuah ending yang tak perlu diperpanjang lagi, ditutup dengan senyuman Sebastian kepada Mia, menurut saya itu cukup 'kenak' di hati, dan memang seberat apapun kita mengejar mimpi kita, jangan pernah lupa kepada orang-orang yang selalu berada di dekat kita. Bermimpi lah selagi kamu masih punya impian.





2 komentar:

  1. Saya suka banget film ini..terutama pada keteguhan keduanya mengejar mimpi 😊

    Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa benerr, yg awalnya ogah bgt nonton jadi suka sekali hehee, makasi ya mbk uda baca

      Hapus