Jumat, 03 Maret 2017

Surabaya, bukan tentang "Jancuk" dan "Dolly"



Jembatan Merah

"Rek ayo rek,mlaku-mlaku nang Tunjungan
 Rek ayo rek mlaku-mlaku bebarengan..."

Siapa yang tak tahu lirik lagu diatas? Lagu karya Mus Mulyadi itu menjadi dikenal masyarakat Indonesia sebagai lagu daerah kota Surabaya. Seperti lagu-lagu daerah lain yang menjadi terkenal karena sering dinyanyikan, lagu Rek ayo rek juga menjadi salah satu lagu wajib dinyanyikan setiap tanggal 10 november di sekolah-sekolah surabaya. Sebagai kota terbesar kedua setelah ibukota Jakarta, kota ini pun mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menjadikannya kota metropolis dengan kepadatan penduduknya setiap tahun. Jangan kaget jika jalan-jalan di Surabaya, sekarang sering macet seperti di Jakarta, dan pertumbuhan gedung-gedung tinggi dan mall pun kian membanjiri kota Pahlawan ini.


Surabaya dan logat khas suroboyoan

Mungkin sudah tak asing lagi dengan logat khas suroboyoan yang menjadikan bahasa khas warga asli Surabaya ini dikenal di seluruh Indonesia. Mungkin bagi sebagian orang awam, yang belum pernah tinggal atau kenal dengan orang di kota ini, pasti akan kaget atau beranggapan bahwa bahasa suroboyo itu kasar dan terkesan mau ngajak berantem. Padahal bagi orang asli surabaya sendiri, logat seperti itu yang menjadi ciri khas identitas mereka ketika bertemu orang yang sama-sama surabaya atau berkunjung ke suatu daerah lain di Indonesia dan logat khas suroboyoannya masih kental meskipun berbicara dalam bahasa indonesia. Pasti orang lain langsung bisa menebak, dari mana asal kota mereka, hanya dengan logat suroboyoan tersebut.


Surabaya dengan  "Jancuk" dan "Dolly"

Siapa yang tak kenal dengan kata Jancuk dan tempat Dolly ? Sebagian orang luar Surabaya mengaku penasaran dengan kata dan tempat itu. Bahkan seringkali jika saya menyebutkan asal daerah saya ketika saya travelling ke suatu kota atau bertemu teman dari luar kota, bahkan bule luar negeri yang berkunjung ke Surabaya pun, menjadikan Dolly salah satu list tujuan wisatanya ke Surabaya. Saya pernah ditanya seperti ini, "Jancuk itu apa sih? makanan atau tempat apa?" dan saya sendiri yang orang asli surabaya tak bisa menjawab dengan detail asal kata tersebut. Karena pada saat saya masih sekolah dasar, kata "jancuk' itu sudah lazim terdengar ketika teman-teman saya mengumpat atau memanggil teman lain. Waktu saya kecil pun sempat bertanya pada kedua orang tua saya, jancuk itu apa? kok banyak yang bicara kata itu? dengan polosnya saya bertanya ke Bapak saya. Tetapi saya tidak mendapatkan jawaban yang sebenarnya, melainkan Bapak saya marah, dan bilang kalau tidak boleh bicara dengan kata itu, karena itu "misuh" atau yang artinya kata kotor dan dosa kalau bilang kata tersebut. Kerana mindset saya dari kecil kalau jancuk itu kata kotor dan bakal dosa, maka jika saya mendengar teman-teman sebaya bicara kata tersebut, spontan aja saya bilang, " heh ojok ngomong ngunu, duso lo".  yang artinya " hei jangan bicara seperti itu, dosa loh" dan beberapa saat kemudian saya ditertawakan oleh teman-teman saya itu. Entahlah, kata jancuk itu sendiri seperti bahasa khas orang surabaya, seperti identitas yang selalu menempel kemanapun mereka pergi. Bahkan sekarang Jancuk pun mendunia gara-gara seniman nyentrik Sudjiwo Tejo menjadikan jancuk salah satu judul di bukunya.

Menurut Wikipedia, Jancuk itu...

JancokDancok, atau disingkat menjadi Cok (juga ditulis Jancuk atau CukAncok atau Ancuk, dan Coeg) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya. Selain itu, kata ini juga digunakan oleh masyarakat Malang dan Lamongan. Meskipun memiliki konotasi buruk, kata jancok menjadi kebanggaan serta dijadikan simbol identitas bagi komunitas penggunanya, bahkan digunakan sebagai kata sapaan untuk memanggil di antara teman, untuk meningkatkan rasa kebersamaan.
Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Kata Jancok juga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo.


Selain jancuk, ada lagi yang tak kalah fenomenal di Surabaya. Sebenarnya tempat ini sudah terkenal dari jaman penjajahan Belanda di Surabaya. Dan katanya, menjadi tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya juga baru tahu tempat ini pada saat saya SMA. Waktu itu mau belajar kelompok di salah satu rumah teman, dan kebetulan lokasi rumahnya berdekatan dengan wilayah lokalisasi tersebut. Kenapa namanya Dolly, ada juga yang bilang gang jarak, kalo gang jarak karena memang nama jalan di area tersebut. Bahkan dulu sewaktu sekolah, banyak teman-teman yang plesetin Dolly menjadi UGM ( Universitas Girilaya Mendukur), girilaya itu nama jalan disana, dan mendukur itu artinya atas, karena memang struktur jalannya agak naik. Bahkan dolly sendiri menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Surabaya. Wisatawan luar negeri pun sengaja ke Surabaya hanya untuk melihat Dolly karena penasaran. Menurut wikipedia menuliskan,  

Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari SemarangKudusPatiPurwodadiNganjukSurabaya, dan Kalimantan.


gang Dolly pada malam hari, source google

Wilayah ini memang ramai pada malam hari, jika siang hari jalanan dan rumah-rumah karaoke di tempat itu sepi tak berpenghuni. Namun pada tahun 2014 lalu, walikota Surabaya resmi menutup lokalisasi terbesar se Asia Tenggara ini dengan perlawanan yang cukup panjang, sampai akhirnya benar-benar ditutup. Butuh perjuangan dan keberanian bu Risma sampai akhirnya berhasil membuat kawasan lokalisasi itu berubah wajah menjadi lebih baik hingga sekarang.

kawasan gang dolly ketika siang hari, sumber google


Surabaya menjadi cantik dengan banyak Taman

Surabaya kini kian mempercantik diri, ditangan dingin bu Risma, Surabaya di sulap menjadi kota yang kian cantik dan bersih. Saya sebagai warga asli, lahir dan besar di Surabaya merasakan perubahan yang luar biasa pesat di setiap sudut kota. Banyaknya taman dan tempat-tempat hits di setiap sudut kota, bisa dinikmati semua warga maupun yang sedang berkunjung di Surabaya. Kalau dulu ketika ditanya saudara yang tinggal di luar kota, wisata di surabaya itu mana aja? saya sempat binggung, yang saya tahu hanya pantai Kenjeran dan Tunjungan Plasa. Namun sekarang, tak usah khawatir, saya bisa menunjukkan spot-spot terbaik yang bisa menjadi tempat nongkrong atau wisata foto jika ke Surabaya. Banyak tempat-tempat baru, yang bisa jadi destinasi wisata di kota ini. Ini beberapa tempat-tempat baru yang recomended jika kalian berkunjung ke Surabaya.


Icon Suro dan Boyo di depan Kebun Binatang Surabaya
(source @aslisuroboyo)


Tugu Bambu Runcing, simbol perlawanan arek suroboyo melawan Belanda
(source @aslisuroboyo)


Jembatan Surabaya di Pantai Kenjeran
dan Air mancur menari (source @aslisuroboyo)


Surabaya Night Carnival (source foto @nenzquarius)

Surabaya Heritage Track di House of Sampoerna
( source foto @nenzquarius)


Kampung warna - warni di Pantai Kenjeran
(source @aslisuroboyo)

Kuburan sepur di Dipo Lokomotif Sidotopo
(source foto @nenzquarius)


Food Junction Surabaya
(source @aslisuroboyo)


Car Free Day di jalan Tunjungan Siola
(source foto @nenzquarius)


Taman Bungkul
(source wikipedia)


Sebagian foto-foto tempat yang asyik buat nongkrong maupun destinasi wisata jika ke surabaya, dan tidak cuma itu saja, masih banyak tempat-tempat baru yang bakal hits di kota pahlawan ini. Jadi sekarang saya tidak binggung lagi jika ditanya wisata apa yang ada di Surabaya. Karena hingga sekarang Surabaya masih terus mempercantik diri mulai dari jalan raya, area pedestrian untuk pejalan kaki, hingga wisata kuliner dan wisata keluarga. Karena sekarang Surabaya bukan lagi tentang Dolly dan kata jancuk nya. Surabaya juga punya tempat-tempat yang keren buat wisata foto maupun kulinernya. Jadi jangan ragu-ragu buat " Mlaku-mlaku nang Suroboyo yo rek!"




cerita minggu ke 6 untuk #1minggu1cerita




11 komentar:

  1. Aduh.... Belum pernah ke Kampung Warna-Warni itu. Lucu buat jalan2 sore kayaknya ya. :))

    Mampir2 juga ya, Mba....
    www.iamandyna.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, salam kenal ya,makasi ud mampir. Iya banyak tempat yg baru di surabaya. selalu mampir ke blognya, keren bgt.

      Hapus
  2. Kirain kampung warna-warni sih di Malang,,di Sby ada jg ya? Food juction, air terjun menari, kuburan sepur,,aduuh,,catet ah kontak bu nenny ��������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbk, kampung warna warni hampir mirip kyak di mlg, wisata baru di sbya. Yuk ditunggu klo mau ke sbya hehehe

      Hapus
  3. Haha aku bkn orang asli sby, tp sudah hampir empat tahun terakhir ini hidup di kota ini. Sudah cukup begitu memahami kejancokan kota ini haha. Mantap mba.koen arek ndi mba, mampir sukolilo lah haha

    BalasHapus
  4. Haha aku bkn orang asli sby, tp sudah hampir empat tahun terakhir ini hidup di kota ini. Sudah cukup begitu memahami kejancokan kota ini haha. Mantap mba.koen arek ndi mba, mampir sukolilo lah haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah slamat menikmati kejancukan kota ini ya hehehe, asli endi sampean mas? lah omahku yo keputih mas.hehehe

      Hapus
  5. Dua kali ke Surabaya, weekday, jadi tak sempat jalan-jalan... :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang skali, harus ke sby lg dan jalan2 hehehe

      Hapus
  6. wahhh jadi pengen k surabaya dehhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bang pad, jalan2 ke sbya... Ajak arden hehee

      Hapus