Sabtu, 25 Februari 2017

Menjadi "Oemar Bakrie" di era masa kini



Pada saat saya mengajar di kelas






“40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti, memang makan hati. Tapi mengapa gaji guru seperti di kebiri..”
Pasti sudah tahu kan sepenggal lirik lagu fenomenal milik Iwan Fals tersebut. Dari dulu profesi ini tak pernah menuntut dan tak pernah dilirik orang. Sampai sekarang pun fakta itu pun tak banyak berubah. Dulu dan sekarang memang ada sedikit perubahan, namun masih saja tetap menjadi polemik di negeri tercinta ini. Tak munafik, kala itu gaji seorang pendidik tak semegah sekarang. Jauh dari berita ini itu, tuntutan gaji, sampai orang tua yang melaporkan guru ke pihak berwajib gara-gara anaknya dicubit belaka. Semua itu hanyalah drama seperti kebanyakan sinetron televisi yang mencekoki ABG labil masa kini.
Mungkin saya terkesan sok tau, tapi saya pun menjadi salah satu orang yang dulunya juga tak mau menjadi seorang pendidik. Berbekal sedikit paksaan dari orang tua, serta wejangan ibu saya yang bunyinya, “jadilah guru, itu profesi yang disegani, dihormati dan tak akan dipecat jika tak berbuat macam-macam,” maka saya akhirnya jadi seorang guru juga.
Seperti cinta, dari pertama saya sudah tak mau jatuh cinta dengan profesi ini, bahkan saya menolak keras dan sering kali memaki dan mengumpat. Tapi lagi-lagi Takdir Tuhan berkata lain. Saya mulai percaya dengan kata-kata, “kalo gak suka jangan keterlaluan, nanti kamu malah akan menjadi sebaliknya.” Benar saja, selepas resign dari perusahaan bergaji besar, saya beralih profesi menjadi seorang “Oemar Bakrie” yang gaji pertama saya hanya Rp200.000 per bulan. Menyesal kah? Masih saja memaki? Atau mengeluh?
Lucu, jawabannya TIDAK.
Gaji minim yang saya peroleh di bulan pertama saya alih profesi itu membuat saya seperti kehilangan masa muda waktu itu. Ketika teman-teman lainnya masih bisa beli ini itu, nongkrong cantik di cafe dan bepergian ala koper, saya justru memutar otak untuk merubah mengeluh menjadi bersyukur. Walaupun itu tampak di depan saja, manusia tetaplah manusia.
Lima tahun berlalu tanpa saya sangka. Ternyata, saya masih saja bertahan dengan profesi ini. Profesi yang dulu tak pernah dilirik siapapun. Profesi yang tak pernah menuntut gaji tinggi seperti gaji buruh pabrik. Profesi yang jujur mendidik anak orang agar mereka berguna dan mendapatkan pekerjaan yang bagus nantinya. Gaji guru sekarang memang berbeda dengan dahulu. Banyak orang bilang, “sekarang guru gajinya besar, enak lho jadi guru.” Saya pernah dikomentari begitu oleh teman saya, namun saya hanya tersenyum saja. Kalau saya katakan gaji saya yang sebenarnya saat itu, mungkin saja dia tak percaya. Karena yang dia lihat hanya guru yang sudah pegawai negeri, bukan guru honorer yang banyak dipermainkan gaji minim.
Pendidikan sekarang berbeda jauh dengan dulu. Saya tentunya juga pernah menjadi seorang murid. Dulu. Saat belum banyak teknologi dan drama dan sinetron yang menjamur, belum juga ada smartphone yang kini anak SD pun telah banyak memilikinya. Pendidikan kala itu cukup membuat seorang siswa takut pada guru. Sebutan guru killer sering menjadi trending topic di masing-masing sekolah dan institusi pendidikan kala itu. Saat ada guru yang dicap sebagai killer tersebut, para siswa segan dan bahkan takut berbuat yang macam-macam. Apalagi kalau sampai membuat pelanggaran. Guru tersebut langsung menghukum siswanya dengan cara berbeda-beda. Pada waktu itu hukuman-hukuman itu dianggap biasa saja. Bahkan kita sebagai murid takut untuk berbicara dengan orang tua, jika kita dihukum di sekolah. Coba kita bandingkan dulu dengan sekarang?
Pendidikan sekarang seperti diperjualbelikan media massa. Kaum awam tak pernah tahu bagaimana perbedaan keadaan siswa di sekolah negeri dan sekolah swasta yang menengah ke bawah. Mereka hanya tahu siswa-siswa berbakat, anak pejabat, dan siswa yang berprestasi lain di sekolah bonafit. Mereka juga tidak tahu sulitnya keadaan pendidikan yang letaknya jauh dari kota-kota besar. Yang sulit dijangkau sarana transportasi maupun sarana lainnya. Mereka hanya melihat sisi drama-drama yang gak penting untuk diangkat sebagai berita utama.
Para orang tua pun juga begitu. Mereka hanya bisa bekerja dan mencari uang untuk anak-anaknya, namun mereka tak memberi perhatian dan kasih sayang ketika anak berada di lingkungan rumah. Saya mengajar di salah satu sekolah menengah ke bawah di pinggiran kota besar. Latar belakang keluarga siswa yang beragam membuat saya belajar untuk memahami apa yang harus dilakukan seorang guru terhadap siswanya. Mungkin seorang pegawai bekerja 8 jam perhari hanya menghadapi benda mati, tapi seorang guru dari pagi sampai siang hari menghadapi benda hidup yang berbeda karakter dan latar belakang keluarganya. Bagaimana mungkin mereka orang awam bisa mengerti dengan kondisi yang kita temui setiap hari?
Dan masih saja mereka sering bilang, “enak ya jadi guru kerjanya dikit, pulang siang, gajinya juga besar.” Bisa-bisanya mereka berpikir seperti itu padahal mereka tidak pernah tahu bagaimana keadaan di suatu sekolah yang siswanya jauh dari kata unggulan atau anak orang berada.

berasa ikutan ABG juga saya










Saya disini menulis bukan karena saya seorang guru. Bukan juga untuk membela diri. Saya hanya sedikit meluruskan anggapan orang awam yang belum tahu benar profesi ini. Sekarang marak pemberitaan guru memukul muridnya, tindakan asusila seorang guru terhadap muridnya, atau berita berita lainnya yang tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah drama yang ditambahi bumbu berlebihan.
Bagaimana pendidikan di negeri kita bisa baik jika gurunya saja cabul? Atau tidak baik?
Pertanyaan itu selalu terdengar dimana-mana. Jangan asal men-judge semua guru itu tidak baik lantaran ada salah satu yang tidak baik. Karena itu pribadi masing-masing. Dan lagi-lagi media selalu menjual sisi negatif yang selalu ramai diperbincangkan. Bukan berita-berita lainnya yang bermanfaat dalam pendidikan. Jadilah pembaca yang pintar, kalau belum tahu kondisi sebenarnya. Karena seorang guru lebih tahu apa yang harus mereka kerjakan. Apa yang harus mereka perbuat untuk mendidik siswa-siswanya. Untuk apa menggurui guru hanya karena terpengaruh drama kekinian. Mereka tahu kok apa yang harus diperbuat untuk mendidik siswanya. Masih banyak prestasi-prestasi baik lainnya dari pada mencari drama yang tak penting untuk menjatuhkan sebuah profesi yang bahkan tak pernah menuntut kenaikan gaji.
“Menghadapi makhluk hidup sepanjang usiamu, kau akan banyak belajar dari mereka, bukan kau yang mengajari mereka, yang demikian ini membuat kita lebih menghargai hidup..”



cerita minggu ke 5 untuk #1minggu1cerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar