Jumat, 10 Februari 2017

Mari berdamai dengan Memaafkan




The weak can never Forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. - Mahatma Gandhi 

Mengutip kata-kata Mahatma Gandhi diatas, memang benar Memafkan dapat membuat kita semakin kuat dari pada menumpuk dendam. Tapi pada kenyataannya, maaf itu sendiri membuat manusia gengsi untuk mengakuinya. Bahkan saya pun begitu, jika benci dan sakit hati menguasai diri, kita menjadi manusia yang angkuh dan mau menang sendiri. Pada akhirnya kata maaf pun masih jauh dari ujung bibir kita. Sulit? iya, karena saya bukan Tuhan yang maha pemberi maaf pada umatnya. Kita ditakdirkan punya hati yang bisa menerima sakit, benci, maupun terluka. Bagi saya itu manusiawi, Manusia super baik dan super sabar sekalipun juga pernah merasakan sakit hati, dan sulit untuk memberi ataupun meminta maaf terlebih dahulu.

 Saya tidak menyalahkan atau tidak membenarkan, karena maaf itu sama seperti kita harus berdamai dengan hati kita sendiri. Kita bisa memaafkan cepat atau lambat tergantung seberapa kita mau berdamai dengan hati kita sendiri. Pada usia saya yang masih labil, terkadang ego masih tinggi-tingginya, di remehkan atau di bully teman sendiri udah sakit hati dan tidak akan lagi mau memaafkannya sampai kapanpun. Sampai ketika saya menyadari dan mengingat kembali, untuk apa saya buang-buang waktu sakit hati dengan perkataannya, untuk apa saya melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Padahal jika saja saya mau berdamai dengan hati saya sendiri waktu itu, saya tidak akan semenyesal sekarang. Karena teman yang waktu itu membully dan meremehkan saya, lebih cepat di panggil Tuhan karena kecelakaan lalu lintas. Betapa sangat menyesalnya saya waktu itu, ketika saya belum sempat memaafkannya, dia meninggalkan dunia ini  selamanya. Maka setelah itu justru saya yang merasa bersalah padanya, saya menangis di samping pusara terakhirnya siang itu. Bahkan saya tak sempat meminta maaf untuk yang terakhir kalinya. 

Setelah kejadian itu, saya semakin sadar bahwa kita tak pernah tahu kapan kita berakhir di dunia ini. Meminta maaf ataupun sebaliknya menjadi hal terpenting dalam hidup ini. Jangan sampai kita menghambat jalan kepergiannya menghadap Tuhan karena kita belum memaafkannya, atau jika saja kita yang berakhir di dunia ini dan kita belum sempat meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti hatinya, bisa-bisa arwah kita tak pernah tenang menghadapNya. Sesakit apapun yang pernah kita terima, akuilah kita harus memaafkannya sebelum dia meminta maaf pada kita. Bukankah itu ajaran yang ada di agama Islam, bahwa kita harus saling memaafkan antar umat manusia. Sebelum kita benar-benar menyesal nantinya, ketika tak ada lagi waktu untuk meminta maaf ataupun memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. Sesulit apapun itu, kita harus berdamai dengan hati kita untuk lebih mudah menerima dan berkata maaf pada sesama. Karena kita tidak sempurna, kita masih punya rasa benci dan sakit hati, namun kita tak pernah tahu sampai kapan waktu masih bersamamu di dunia ini.

Maka dari itu, lewat cerita ini saya sudah benar-benar memaafkannya dari hati yang paling dalam, karena kita tidak berhak menghakimi seseorang karena perbuatannya pada kita. Karena yakinlah kita punya Hakim yang lebih tau segalanya, biar Dia yang memilihkan hukuman apa yang pantas untuknya. Untuk kalian yang masih berat memaafkan atau meminta maaf, mari segera berdamai dengan hati masing-masing, untuk mau meminta maaf dan memberi maaf, karena kita tidak tahu kapan kita berakhir di dunia ini, sebelum menyesal dan terlambat pada akhirnya.

Surabaya 10 Februari 2017
cerita minggu ke 3 untuk  #1minggu1cerita 

2 komentar:

  1. Nice posting! Semoga kita semua menjadi pribadi yang mudah memaafkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbk udah berkunjung dan membaca, aminn betul mbk :) salam kenal

      Hapus