Sabtu, 18 Februari 2017

Bukan sebuah Kutukan tapi Anugerah

source pinterest

Most days of the year are unremarkable. They begin and they end with no lasting memory made in between. Most days have no impact on the course of a life - 500 days of summer


Jika kalian pernah menonton film 500 days of Summer, pasti hafal dengan quote narator pada film tersebut. Iya kali ini saya bukan ingin membahas tentang film tersebut, melainkan ada kesamaan cerita yang pernah saya alami. Pada waktu masih kuliah, saya menonton film yang dibintangi Michael Weber dan Zoey Deschanel, dan langsung baper kemudian. Yang bikin menarik diawal ada sebuah quote, " This is not a love story, this is a story about Love". Nah dari awal film ini udah bikin penasaran bagaimana alur ceritanya, saya gak mau bicara tentang isi cerita di film ini, jadi kalau kalian mau tau silahkan cari dan download ya.

Di keseluruhan film tersebut banyak sekali kejadian atau cerita-cerita yang sering kita alami di kehidupan nyata. Pada waktu itu saya masih belum merasakannya, tetapi pada saat ini ketika usia saya yang tak lagi muda, ada hal-hal yang sering membuat saya sebal bahkan marah. Namun balik lagi ketika saya membaca quote dalam film 500 days of Summer, yang isinya begini:

Hidup ini terus berputar, musimpun akan terus berganti. setelah musim panas (summer) pasti akan hadir musim gugur (autumn). Jangan bersedih atas apa yang telah pergi. Jadikan itu sebagai pelajaran yang berarti  dan mulailah menyiapkan diri atas apa yang akan menanti.

 Penggalan quote diatas, ketika Tom, (si pemeran laki-laki di film tersebut) mengalami patah hati yang luar biasa ketika ia ditinggal Summer (si wanita yang cantik teman kerjanya) dengan alasan yang tidak jelas, bahkan mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Memang benar ketika kita mencintai seseorang melebihi segalanya, dan ketika suatu hari nanti kita tak lagi bersama? Hancur dan Sakit itu pasti yang dirasakan. Karena kita manusia yang punya hati dan perasaan. Dan kejadian yang sama pula sering saya alami dalam proses pencarian seseorang dalam hidup saya.

Mungkin ketika usia saya masih menginjak angka 20, kejadian seperti itu hal wajar bagi anak muda yang masih labil dan proses pencarian jati dirinya. Saya masih senang-senangnya berteman dengan semua orang, pergi travelling bersama teman-teman kuliah, mempunyai waktu bebas kemanapun saya suka. Namun, ketika usiamu sudah memasuki 25 tahun, hal apa yang kalian pikirkan pada saat itu? ya sebagian teman saya ada yang sudah memutuskan untuk menikah, lalu mempunyai anak dan hidup bahagia. Saya sendiri masih dengan kesibukan saya mencari dunia saya yang bebas, berkelana dari satu kota ke kota lainnya untuk sekedar bertravelling. Semua itu proses, sebagian teman saya bilang begini pada saya: " kamu kebanyakan mbolang, makanya gak punya pacar", "ah kamu sih kebanyakan milih-milih jadi gak ada yang mau kan?" dan ada yang lebih sadis dari itu, "Paling kamu yang gak serius, gak mau diatur, jadinya mereka kabur deh". Dari beberapa pertanyaan seperti itu, saya terima dengan senyuman. Mereka tidak tahu keadaan saya, bagaimana saya menjalin hubungan dengan seseorang dan berakhir seperti di film 500 days of summer. Mereka tidak pernah tahu saya melalui semua proses hancur bahkan sakitnya hati ini.

Saya termasuk orang yang menutupi apapun perasaan yang saya alami, termasuk dengan kedua orang tua saya. Yang pernah saya ajak kerumah pun hanya 2 orang laki-laki yang saya yakini sebagai pacar saya. Sampai pada akhirnya proses penyembuhan itupun sedikit demi sedikit hilang. Dan ketika usia saya menginjak 26 tahun, saya bertemu dengan seorang laki-laki. Harapan dan impian pun sudah di depan mata. Target menikah di usia 26 tahun pun, pasti bisa terlaksana dengan sempurna. Namun lagi -lagi harapan memang tak selalu selaras dengan kenyataan. Bagaimana pun juga kita diharuskan untuk memilih kenyataan, 4 tahun kita sama-sama bertahan, berjuang dan berusaha meyakinkan kedua orang tua. Seberapa dan sekuat apapun kita berusaha, jika tak ada jalan dan restu kami pun pasrah dan mundur teratur. Mungkin Allah belum menjadikan tulang rusuk kita menyatu. Saya mencoba kuat di depan mata semua orang, di depan teman-teman atau siapapun. Saya yakin, saya bisa melalui ujian ini dengan bersabar dan bersyukur, rencana Allah pasti indah pada waktunya. Hanya saja mulut manusia seperti sebilah pisau tajam yang mampu menghunusku dari segala arah, mereka yang tak pernah tahu keadaan saya, tega berbicara "umurnya udah banyak, kok belum kawin? biasanya itu kutukan atas perbuatannya dulu kali, makanya jangan kebanyakan mbolang, hidup bebas sampai lupa cari suami". Saya menanggapi hanya tersenyum, sambil istighfar dalam hati, " ya Allah kuatkan saya, jangan sampai air mata ini menetes di depannya, semoga anak perempuan ibu-ibu itu tidak pernah mengalami yang saya alami. bersihkan dosanya ya Allah." (doa ku dalam dalam ketika hati sudah tak karuan hancurnya waktu itu).

Februari tahun ini, usia saya bertambah lagi. Kali ini saya sudah kebal dengan berbagai pertanyaan yang halus sampai menyakitkan sekalipun. Kalau ditanya target, saya tak punya target di angka tertentu, tapi doa selalu ku curhatkan pada sutradara hidup ini. Semoga kalian yang membaca, dan merasakan seperti saya, ketika ditanya teman, keluarga, atau siapa pun itu, jawablah dengan senyum dan katakanlah " Insya Allah, Allah sedang mengirimkan seseorang dengan segera di waktu yang tepat" niscaya mereka hanya diam, tapi jika masih bertanya lagi, langkah terakhir yaitu, meninggalkannya dengan senyuman, hehhee.....

Sekali lagi ini bukan KUTUKAN tapi Anugerah buat saya

Saya yakin Allah punya rencana yang lebih indah dari manusia, meskipun kita berusaha bertahan dan memaksakan kehendak, jika tulang rusuk kita belum bertemu dan pas, cara apapun tak akan pernah berhasil. Jadi saya bersihkan hati saya, berfikir positif dengan apa yang kita terima, karena semua ini bukan Kutukan, tapi ini adalah Anugerah buat saya lebih berserah diri dan berhati-hati. Sebuah proses yang panjang, menjadikan pelajaran berharga yang tidak semua orang alami. Saya bertemu dengan berbagai karakter manusia yang baik sebelum saya ditemukan dengan yang terbaik. Karena menikah bukan untuk coba-coba, atau hanya soal ikut-ikutan semata. Karena menikah itu untuk ibadah kepada Allah, bukan untuk pamer gengsi.





cerita minggu ke 4 yang sedikit baper untuk #1minggu1cerita




8 komentar:

  1. Sabaaarrr..
    Akan datang disaat yang tepat..dengan seseorang yang tepat.. Aamiin
    *menyemangatidirisendirijuga
    Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pasti, tetep smangat juga. Jgn jadiin ini sbagai halangan utk tetap berikhtiar. Smoga kita sama2 diberi sabar ya, mkasi udah mampir

      Hapus
  2. nikmati aja mba,, masa lajang (semoga) ga terulang lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbk, makasi ya udah mampir baca, insya allah menikmati semua jalanNya.

      Hapus
  3. Jadi ceritanya aku baru menikah 2 bulan yg lalu di umur 34. Jadi cukup kenyang lah sama segala macem omongan orang. Kalem ya semua ada waktunya. Dan skarang nikmati aja saat antri mnuju waktu yg terbaik untuk menikah~ semangat!

    BalasHapus
  4. teh Anil, makasi bgt udah mampir, iya teh terima kasih smangatnya, saya juga yakin dg waktu terbaik dr Allah. Teh anil slamat ya semoga segera diberi momongan, aminnn

    BalasHapus
  5. Kalem aja teh... Yg udah nikah juga sebenarnya tak henti2nya dpt pertanyaan yg..."mana saya tahu? Hanya Allah yg tau."
    Insyaa Allah jodoh terbaik menanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi sekali teh chika udah mampir, iya teh ini mah udah kalem bgt hehhee... aminnn makasi teh

      Hapus