Jumat, 23 September 2016

Ngetrip Semarang ala Ransel ( Part 1)

vihara Buddhagaya Watugong

 Twenty years from now you wiil be more dissappointed by the things you didn't do than by the ones you did do. - Mark Twain

Seperti quote diatas, saya mulai berpikir seperti itu ketika saya mahasiswa. Ketika itu "Sim" untuk bepergian di ACC dengan mudahnya. Saya pun tak mau melewatkan kesempatan sekali seumur hidup saya ketika saya muda. Dan dimulailah petualangan ngawur saya kala itu. Bertemu teman-teman gila satu visi dengan saya waktu itu, seperti menemukan partner berpetualang yang asik, dan kita pun mulai menyusun ngetrip list yang harus didatangi. Tak perlu berlama-lama, kita selalu menjadwalkan travel ke tempat-tempat yang belum kita tahu sebelumnya. Yang pasti dulu beda banget kayak sekarang, jika ada tempat wisata baru selalu di expose di media sosial. Dulu saya selalu searching google dlu sebelum menentukan tempatnya. Browsing jalur dan sarana transportasi apa yang menuju kesana, lalu ada tempat wisata apa lagi yang lokasinya berdekatan dan sebagainya. Kalau sekarang udah canggih, tempat-tempat bagus dan kece selalu di apload di Instagram, lalu kita tinggal cari lokasi di google. Ya begitulah magnet Instagram di jaman kekinian, ya sedikit membantu juga sih buat saya, tapi kadang yang di unggah di instagram tak seindah di foto. Ada beberapa lokasi yang pernah saya datangi gara-gara lihat di Instagram, namun pada kenyataannya gak sesuai dengan apa yang saya lihat waktu itu hehehe. Sekali lagi ini karena kecanggihan kamera dan angle foto tersebut.


If i can feel all this there must be something good in the universe, Perfect Journey

Bulan lalu, saya nekat ngetrip ke satu kota yang belum pernah saya datangi. Ibu kota dari Jawa tengah ini jadi tujuan saya ngetrip kali ini, Banyak tempat baru yang sudah lama saya ingin kunjungi sewaktu kuliah, dan baru bisa ngetrip kesana setelah bekerja. Waktu ngetrip kali ini sangat singkat, berangkat dari Surabaya pada hari Kamis malam jam 9 dengan kereta Maharani berangkat dari stasiun Pasar Turi, tiba di stasiun Tawang Semarang jam 2 dini hari. Sedikit lega karena sebelumnya saya sudah booking homestay lewat traveloka jadi gak harus nyari penginapan pada hari itu. Tiba di stasiun Tawang jam 2 dini hari, saya sedikit khawatir, jadi saya berjalan keluar stasiun untuk mencari taksi argo, memang banyak sekali yang nawarin taksi pas keluar dari pintu keluar stasiun. Ingat hal penting ketika ngetrip ke suatu kota, jangan sampai raut muka kita keliahatan binggung, dan harus waspada dengan barang-barang yang kita bawa. Untuk amannya kita lebih baik cari transportasi diluar stasiun dan pastikan tanya lebih dulu tujuan kita dan harga taksinya.


Semarang di malam hari, sedikit sepi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. perjalanan dari stasiun ke penginapan tidak terlalu jauh, kira-kira 1km, waktu itu saya dan teman saya mencari penginapan yang murah dan tidak jauh dari stasiun atau pusat kota. Dikarenakan saya belum pernah ke Semarang jadi saya tidak tau penginapannya itu terletak di daerah mana. Penginapan yang saya pilih adalah homestay Purwosari Residence, meskipun homestay tapi recommended lah buat ngetrip backpacker. Harga per malemnya Rp 200rban, karena saya booking lewat traveloka jadi dapet diskon sekitar 10% dan dapet harga Rp 179rb aja gak pake makan lo ya. Bener-bener ngebantu banget kalo booking lewat traveloka, (bukan promosi). Jangan dikira kalo homestay itu jadul, justru ini kayak rumah sendiri seperti ngekost gitu, fasilitasnya pun lumayan buat backpackeran, ada AC, Wifi gratis, Kamar mandi dalem, TV pokoknya cozy banget.



Homestay yang cozy banget dan murah, Purwosari Residence

Homestay Purwosari ini emang berada di dalam gang, tapi bisa dilalui mobil juga, jadi gak usah khawatir gak ada transportasi. Selama di Semarang sebenarnya saya ingin sewa sepeda motor, berhubung rental motor di Semarang full semua, dan ada beberapa yang di khususkan untuk mahasiswa saja, jadi kita agak binggung gimana kalo mau ke tempat wisata. Untungnya pihak homestay menyewakan sepeda motornya namun sedikit mahal jatuhnya. Saya nyewa sepeda motor milik homestay 10 jam nya dikenakan biaya Rp 75rb, gak ada pilihan lain karena hari sudah siang akhirnya kami pun menyetujui, meskipun yang disewakan motor lama kawasaki yang tangki bensinnya ada di depan motor, dan remnya pun sedikit gak pakem, sungguh sial pada saat hari pertama. Untuk lokasinya homestay gak jauh dari Masjid Agung Jawa Tengah dan stasiun Tawang, jadi gampang banget kalo nyasar patokannya arah jalan ke Masjid Agung dan Dr Cipto. Kalo kita mau menuju ke Ungaran juga gampang banget jalurnya gak terlalu jauh juga. Di Semarang emang minim banget petunjuk jalan arah wisata, jadi kita harus sering-sering tanyak sama orang sekitar. Waktu hari pertama saya mau ke Vihara Budhagaya di daerah Watugong, dan itu sempet nyasar akhirnya tanya orang baru ngikutin jalur yang bener, bahkan di lampu merah pun kita selalu tanya sama pengendara motor untuk memastikan benar atau tidak jalur yang kita ambil. Intinya jangan malu bertanya jika kalian bepergian di kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, agar gak nyasar jauh ya guys.


Pagoda Vihara Watugong

Patung Budha

Komplek Vihara Budhagaya

Destinasi pertama kita menuju Vihara Budhagaya, kalo kalian ingin berkunjung kesini tanya ke orang sekitar dengan nama vihara watugong, nama sebenarnya itu Vihara atau Pagoda Budhagaya Avalokitesvara Semarang, dikarenakan nama cukup panjang dan susah, jadi warga sekitar lebih kenal dengan vihara watugong.

Pagoda ini jadi salah satu destinasi terkenal di kota Semarang tapi banyak warga semarang yang belum tahu juga dikarenakan lokasinya sedikit jauh dari pusat kota. Pagoda ini menjadi salah satu Pagoda tertinggi di Indonesia, dan tampak depan bangunan Pagoda ini sungguh menarik, berasa berada di negara Hongkong atau Thailand yang terkenal dengan vihara dan pagodanya. masuk ke area vihara cuma dikenakan parkir seikhlasnya aja, waktu itu saya kesana hari Jumat jam 11 siang, jadi matahari lagi terik-teriknya, jangan lupa bawa air mineral, karena gak ad orang jualan di sekitar lokasi vihara dan pada saat itu pengunjung pun tidak terlalu rame, enak banget buat foto-foto sepuasnya.


Masjid Agung Jawa Tengah

Setelah puas berfoto ria di Pagoda, saya melanjutkan perjalanan balik ke kota Semarang. Karena semakin siang dan belum sholat dhuhur saya memilih destinasi kedua menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Kebetulan sekali hari Jumat, abis jumatan saya menuju Masjid Agung, berdasarkan info yang saya baca di google, kalo hari Jumat payung raksasa yang ada di halaman Masjid yang seperti di Madinah itu akan di buka pada saat sholat Jumat. Gak mau nyia-nyiain kesempatan bisa liat payungnya terbuka ya meski hanya mirip seperti di Masjid Nabawi Madinah, saya langsung menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah. Ketika sampe parkiran ternyata payungnya gak kebuka, sayang sekali gak bisa lihat ketika payung raksasa nya kebuka seperti yang ada di Masjid Nabawi.

Tampak depan Masjid Agung Jawa Tengah

Bisa dilihat dari awan yang ada di atas Masjid waktu itu, Super panas banget waktu saya mengunjungi Masjid. Udah mau masuk eh ada batas sepatu atau sandal gak boleh dipakai sampe ke pintu masjid, alhasil saya lepas sandal dan berlarian menuju pintu masuk Masjid kala itu. Bisa dibayangkan kaki berasa jalan di atas bara api, hehehe sedikit lebay. Masjid yang didirikan sekitar tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006 dan diresmikan oleh bapak presiden SBY waktu itu. Masjid yang mempunyai keunikan tersendiri dari Masjid Agung lainnya adalah terdapatnya payung raksasa hidrolik yang bisa membuka dan menutup otomatis itu. Arsitektur Masjid ini adalah perpaduan antara Jawa, Arab dan Roma. Pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik yang khas dari Jawa, untuk arsitektur Arab bisa dilihat pada dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi dan juga pada payung raksasa di depan area masjid yang mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini juga dipengaruhi arsitektur gaya Roma, bisa dilihat dari desain interior dan lapisan warna yang melekat pada sudut-sudut bangunan masjid tersebut.

Jika kalian ingin melihat Masjid dari sisi atas, tak perlu susah-susah pake drone hanya untuk memotret dari ketinggian. Kalian bisa mengunjungi menara Masjid yang berada di area depan Masjid Agung. cukup dengan membayar Rp 7rb saja kalian bisa naik ke lantai 19 menara dan pastinya view yang disuguhkan cukup menarik untuk dilihat. Di menara juga ada perpustakaan religi dan beberapa peninggalan islam di pulau jawa.

From 19th floor


Bukan hanya view Masjid Agung saja yang bisa kita lihat, view di sebelah barat pun tak kalah bagusnya, kita bisa lihat pegunungan jika kita memutari menara Masjid ini. Gunung Ungaran tampak samar tertutup awan namun bisa dilihat jelas dari Menara ini. Sungguh indah pemandangan kota Semarang dilihat dari Menara Masjid ini.


view gunung Ungaran
area dalam MAsjid Agung Semarang


teropongnya harus dimasukin koin dulu baru bisa lihat hehehe....


Lawang Sewu 

Setelah dari Masjid Agung, saya melanjutkan destinasi ke tiga yaitu ke Lawang Sewu. Tempat ini pasti udah terkenal karena salah satu ikon dari kota Semarang. terletak di pusat kota Semarang, bangunan peninggalan dari jaman Belanda ini terkenal dengan banyak pintunya, dan juga kisah mistis yang selalu diperbincangkan semua orang. Letak Lawang Sewu ini sangat mudah dikunjungi, terletak di sudut jalan Pandanaran dan Jl Pemuda ini, menjadikannya sangat mencolok diantara bangunan bergaya modern saat ini. Di depan Lawang sewu terdapat Tugu Muda Semarang yang juga menjadi ikon kota tersebut. Pada waktu itu saya sengaja datang pada siang hari, ya tau sendiri lah ya dengan berbagai cerita mistisnya, agak horor kalo saya datang pada waktu sore atau menjelang magrib. Dikarenakan lokasi agak jauh dari Masjid Agung Semarang, saya sempat muter-muter nyasar dan waktu itu juga masih hari kerja jadi jalanan Semarang siang itu sedikit macet. Namun setelah tanya orang di lampu merah, akhirnya kita sampai juga di lokasi Lawang Sewu, dengan tiket masuk seharga Rp 10rb saja kita bisa melihat isi bangunan yang ada di dalamnya. Sebenarnya jam berkunjung ke Lawang Sewu ini dari pagi sampai malam, dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam, jika kalian penasaran ingin menguji seberapa mistisnya tempat ini, mending dateng sehabis magrib pasti kalian merasakan sensasi sendiri. Namun pada saat itu saya gak seberani orang-orang dan gak mau ambil resiko terjadi hal-hal diluar keinginan jadi saya kesananya siang hari, karena lebih dapet view bangunan vintage nya dan juga kita bisa berfoto sepuasnya tanpa ngerasa merinding hehhee....


halaman luar bangunan


Area dalam Lawang Sewu

Dari segi arsitektur, lawang sewu dibangun oleh pemerintah Belanda yang pada saat itu berkuasa di Indonesia. Gedung ini dulu sebagai kantor perusahaan kereta api milik Belanda, pada masa itu jalur yang dibangun menghubungkan Solo dan Yogyakarta. Dan kini Lawang Sewu digunakan sebagai kantor dan museum Kereta Api (PJKA). Meskipun banyak cerita mistis yang beredar tentang Lawang Sewu ini, buktinya masih banyak wisatawan yang penasaran berkunjung ke gedung yang terkenal mempunyai seribu pintu ini.

seribu pintu di lantai 2


Koridor di lantai 2, saat siang aja rasanya merinding..



Klenteng Sam Poo Kong


Sebagai penutup trip hari pertama di kota Semarang, saya berkunjung ke klenteng yang terkenal di kota Semarang. Semarang memang terkenal sebagai kota yang masih kental budaya china dan jika kalian berkeliling di jalanan kota Semarang pasti banyak sekali klenteng atau tempat ibadah masyarakat Tionghoa, selain banyaknya klenteng, di kota yang berjulukan kota Lunpia ini, masih banyak bangunan atau gedung-gedung bergaya Tionghoa, dan beberapa area perkampungan cina yang biasa disebut pecinan. Masyarakatnya pun kebanyakan dari etnis Tionghoa yang menetap di sebagian besar kota Semarang. Tradisi-tradisi masyarakat Tionghoa pun masih banyak dijumpai di kota ini. Klenteng Sam Poo Kong sendiri adalah petilasan, bekas tempat persinggahan dan pendaratan seorang Laksmana Tiongkok beragama muslim yaitu Cheng Ho. Meski Laksmana Cheng Ho beragama islam, sebagian besar masyarakat keturunan tionghoa kala itu menganggap sebuah klenteng dan dijadikannya sebagai tempat beribadah masyarakat beragama Tionghoa, Budha dan Tao.



Bangunan Klenteng Sam Poo kong kala Senja

Klenteng Sam Poo Kong ini memiliki area yang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang mirip seperti di negara Hongkong maupun negara China, arsitektur dari bangunan pun dipengaruhi gaya Tiongkok meskipun Cheng Ho sendiri beragam muslim, banyak yang menjadikan bangunan ini sebuah klenteng dan tempat untuk sembahyang warga Tionghoa, Budha maupun Tao.


terdapat patung besar Laksmana Cheng Ho


terdapat gapura besar di sebelah patung Laksmana Cheng ho


Untuk kalian yang mau berkunjung ke Klenteng Sam PooKong ini, lebih baik berkunjung pada saat sore hari, karena bisa dibayangkan jika kalian berkunjung siang disaat matahari teriknya sungguh tidak menikmati panorama klenteng yang megah ini. Untuk masuk ke klenteng ini cukup murah, dengan membayar Rp 15rb aja kalian bisa menikmati peninggalan Laksmana Cheng Ho ini, dibuka dari pagi hingga malam hari, jadi jangan khawatir jika kalian berkunjung pada malam hari.







Semua foto-foto milik pribadi bisa dilihat di akun Instagram saya di @nenzquarius untuk melihat hasil perburuan ngetrip saya selama di Semarang.


lanjut di Part 2 ya guys..... thanks for visit my blog :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar