Kamis, 25 September 2014

Bromo dan berjuta kenangan terkubur disana

puncak Pananjakan 2012

“Untuk apa kita melakukan perjalanan? Untuk tahu ada kopi dan manusia yg sama hangatnya.” unknown.

Siapa yang tak tahu salah satu gunung terindah di pulau Jawa ini? mungkin semua orang akan meng amini sudah pernah menancapkan kaki mereka kesana. Sudah pernah berjalan diantara debu lautan pasir yang seakan membisikimu untuk datang lagi. Atau sudah pernah menghirup bau kawah belerang dan menyusuri anak tangga menuju puncak Bromo. lalu cerita apa lagi yang pernah kau rasakan ketika pergi ke Bromo? adakah rasa bahagia, benci, marah atau menguburkan sedikit kenanganmu di puncak kawah Bromo, atau menguburnya dalam-dalam di lautan pasir yang seolah sanggup mengubur semua kenangan.

Kala itu di tahun 2010 untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di lautan pasir Bromo, berharap semua kenangan berhasil aku kubur waktu itu. Bersama beberapa teman setelah kelulusan kuliah, aku berangkat menuju Bromo, rasa bahagia menyelimutiku, menutupi rasa sedih dan gundah waktu itu. Bromo telah membiusku terlalu dalam, hingga aku tak sempat menengok kesedihan sebelum datang kesana. Ia berhasil menyihirku untuk lebih dekat memasuki misteri keindahan alamnya. Misteri anak tangga yang berhasil aku tapaki hingga menuju puncak, dan membuang segala gundah yang sengaja aku buang di kawah gunung Bromo.

Ketika pertama kalinya melihat sinar matahari menyembul keluar dari langit di puncak Bromo, ada perasaan haru sekaligus takjub. Bagaimana aku bisa bersedih di tempat yang sebagus ini, Tuhan pun seakan menghibur diriku lewat semua ciptaanNya. Menghangatkan tubuhku lewat sinar matahari pagi itu. rasa dinginpun tak lagi ku dekap, berganti kehangatan sinar mentari dan kabut yang lama-kelamaan menghilang perlahan.

Ada perasaan yang tiba-tiba hilang dari diriku, ada semangat yang luar biasa yang seakan mendorongku untuk tetap berdiri melihat pemandangan yang luar biasa dari Tuhan. Sekelebat kata-katanya muncul terdengar di telingaku "nanti kita akan ke bromo sama-sama, berjalan di lautan pasir dan naik ke puncak kawah bergandengan tangan". Angin pun ikut berdesir perlahan di depan mataku, seakan ingin menghapus ingatanku pada deretan kata-kata yang waktu itu terus aku ingat.

Bukan untuk mengulang cerita di tahun itu, aku hanya ingin sedikit mengingat sihir Bromo yang membuatku tak mungkin lupa segala cerita dan keluh kesahku setiap kali kesana. Bromo seperti Ibu buatku, tiap kali pergi kesana selalu membuang kisah di puncak kawahnya. Di tahun 2012 lalu, aku mengunjunginya lagi. kali ini ceritaku berbeda dari tahun 2010. Aku mengunjunginya sebelum aku bertemu sesorang pada waktu itu, seperti pamit kepada ibu yang selalu mendoakan anaknya ketika akan bertemu seseorang yang dia temui.

Lagi-lagi Bromo memberikanku sihir dan perasaan berbeda padaku, setelah mengunjungi "ibu" aku melanjutkan perjalananku, bertemu dengan seseorang di kota tetangga. Seperti memberikan tanda padaku, pertemuan itu menjadi awal dan terakhir untuk kita. Seolah olah Bromo memberikan tempat untukku utk membuang keluh kesahku, sungguh magis memang.

Hampir setiap tahun aku mengunjunginya, terakhir ke Bromo di tahun 2013 kemaren, dan aku mengunjunginya untuk bercerita padanya. Setelah berhasil mengubur kenangan di puncak kawah bromo, waktu itu aku tak lagi membuang kenangan. Namun aku mengirimkan doa pada "Ibu" untuk memberikan restu padaku. Seperti harapan dari doa-doa ku selama mengunjunginya. Semoga kali ini Bromo mengirimkan pertanda baik pada kisahku, seperti bunga bunga edelways yang selalu tetap tumbuh di sekitarnya. Seperti lautan pasir yang seakan menyelimuti "ibu" dari dinginnya udara pegunungan, dan gagahnya gunung semeru yang selalu menjaga dibalik kabut yang datang. Seakan memberikan lukisan cantik sebuah keluarga gunung, yang selalu menyihir hati setiap orang yang mendatanginya. Bromo dengan latar puncak Semeru yang punya misteri keindahan tersendiri. Mungkin esok aku akan mengunjungi "Ibu" dengan satu cerita final dari bagian kehidupanku. Akan aku ajak tangan yang mampu menggandengku menyusuri anak tangga menuju kawah mu, siapapun itu aku yakin dialah yang mampu mengajak dan menggandengku berjuang melawan dingin dan bau belerang menyengat, dan akan sabar mengahadapiku ketika letih sampai menuju puncak kawah nanti, suatu saat :)

Aku akan kembali ke Bromo dengan kisah bahagia, bukan sedih ataupun gundah seperti sebelum-sebelumnya, tunggu aku di puncak kawahmu nanti :)


Bromo 2012




Puncak kawah 2013



suatu saat kita akan bergandengan tangan menyusuri anak tangga ini nanti, semoga Bromo dan Tuhan ikut mengAmini


Salam cinta dari Bromo untukmu semua kawan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar